Aku lebih senang dan menghargai Kejujuran, dan maka aku juga lebih senang dan sangat menghargai orang yang jujur. Jujur mungkin akan bisa menyenangkan dan bisa juga sangat menyakitkan jika kita mengetahuinya. Dengan kejujuran aku dapat mengerti tentang arti sebuah pengertian dan bisa dapat memahami. karena dengan Jujur kita menyampaikan isi hati kita. Aku pun pernah merasakan rasa senang dan sakit dengan Kejujuran itu. Aku pernah senang bahwa dengan kejujuran segalanya akan lebih mudah dan indah, tapi pada saat aku tahu kejujurannya dari seseorang itu sangat membuatku sakit. Aku ingin bercerita sedikit tentang pengalaman yang aku rasakan dengan kejujuran. Pengalaman pahit dan manis tentang Kejujuran . Aku pernah dekat dengan seseorang (Cowok) pada saat aku masih duduk di kelas 2 SMA, awalnya aku tak mengenal dia, tapi karena jejaring sosial yaitu Friendster, aku bisa berkenalan dengan dia dan lumayan dekat dengannya. Dia adalah teman 1 LDK-OSIS se-Jakarta Utara denganku. dia berasal dari sekolah yang berbeda dengan ku. Kedekatan kami hanya bisa lewat dari friendster dan Handphone, kami sering smsan dan telpon2nan, membalas komen satu sama lain. Aku senang berteman dengannya, malahan dia sudah aku anggap seperti kakak cowok ku, maklum karena aku anak pertama dan tidak punya kakak, yang ku punya hanya adik laki-laki satu-satunya dan jarak kami cukup jauh yaitu kurang lebih 7 tahun. Dia sangat jujur menurutku karena baru beberapa minggu kami kenal dia sudah banyak menceritakan kisah hidup dia kepadaku. Akupun tahu dia memiliki seorang pacar dan aku juga sangat menjaga perasaan pacarnya tersebut. Namun tiba-tiba mereka berdua putus, bukan cowok tersebut yang mengakhiri hubungan mereka tetapi ceweknya. aku sedikit ada perasaan yang tidak enak, aku takut mereka putus karena aku, tetapi cowoknya berkata padaku ada cowok lain yang dia suka. selang 2 minggu mereka putus, cowok tersebut menyatakan cintanya kepadaku, tepatnya pada tanggal 25 November 2008. Aku bingung mau menerima pernyataan cintanya atau tidak. aku pun belum pernah berpacaran sebelumnya. karena aku lebih suka banyak teman dan berkutat dengan buku, sibuk organisasi dan komputer di rumahku. Dia berkata kepadaku dia suka dengan aku, dan dia menulis kata-kata yang sangat romantis dan menurutku cara dia menembakku dengan kata-katanya kepada cewek lain itu berbeda, biasanya cowok disaat menembak cewek mereka berkata "Aku sayang kamu, mau ga kamu jadi cewek aku" menurutku kata-kata itu sudah biasa heheh (walaupun belum pernah ditembak) tapi temen-temenku sering curhat kepadaku, apalagi pada saat mereka di tembak oleh cowok. So, udah biasa denger kata-kata ini. Dia berkata kepada ku "Izinkan aku menjadi seseorang yang berarti, izinkan aku menjadi bagian darimu, dan izinkan aku menjadi cowokmu." menurut ku itu sangat So sweet, apa lagi dia meminta izin kepadaku, bukan maksud hanya bertanya saja. Aku masih bimbang pada saat itu, aku belum mau menjawabnya. aku bilang padanya aku akan jawab pada saat selesai sholat subuh. dan akhirnya seperti biasa dia membangunkan aku sholat dengan miscal-miscal. Setelah sholat subuh, dia meng-sms aku, "bagaimana dengan jawabannya?" aku pun menjawab "Tidak!", dia balik meng-sms aku.
"Kenapa ??"..
aku jawab "Aku tidak bisa, kalau aku nolak kamu",
dia bertanya maksudnya?",
aku jawab"Maksudnya aku terima kamu". akhirnya tanggal 26 November bisa dibilang kami berpacaran (just status maybe) 1 bulan tidak ada sedikit pun kendala yang berarti komunikasi lancaaaaaaaar terus, tapi selama 1 bulan kami tidak pernah bertemu. Apalagi aku malu dengan kondisi ku karena wajahku sehabis kecelakaan motor yang membuat wajah ku terlihat tidak seperti dulu, sempat wajah ku diperban seperti mumi saat pergi kesekolah. Aku pun sudah bilang kepada cowok itu, aku sudah jujur kalau aku sudah tidak seperti yang dulu. namu ia berkata dia akan menerima aku apa adanya, kami pun akhirnya bertemu pada saat tanggal 30 Desember 2008, aku bertemu di masjid dekat rumahnya. Rumah dia dan kakek ku kebetulan tidak begitu jauh. di perjalanan saat sehabis pulang aku berlari pagi bersama teman2 ku. aku bertemu dengannya ditemani dengan saudara sepupuku. ada perasaan cemas, kalau dia akan menjauhi ku nantinya saat melihat wajahku yang sekarang. ternyata benar setelah pulang dari bertemu dengannya. Sms dari dia pun berubah, dia seperti baru pertama kali kenal dengan aku.
Pada saat tanggal 2 Januari dia miscal-miscal aku dan mengirim sms ke aku, agar aku bisa menelponnya, karena ada hal yang ingin ia bicarakan kepadaku.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Va... kalau aku suka dengan cewek lain kamu bagaimana??" -_-"
deeeeeegg.... serasa ditusuk dadaku, aku seperti sesak nafas, aku sangat kaget sekali mendengar dia berkata seperti itu.
Dia suka dengan cewek lain disaat aku sayang banget sama dia.
Aku bingung ingin berkata apa?, aku bekata padanya, "Kalau kamu suka dengan cewek lain, itu hak kamu, engga apa2.. aku tidak bisa memaksakan rasa suka dan sayang kamu ke orang lain, kalau cewek itu lebih baik dan bisa buat kamu lebih senang dan nyaman, aku ikhlas kok, Insya Allah kalau kamu seneng, akupun juga seneng.." tapi dia malah marah kepadaku dia bilang aku engga sayang sama dia dan gak bisa mempertahankan hubungan kita, namun memang seperti itulah yang terjadi, dia memang sedang menyukai cewek lain dan aku tidak bisa memaksakannya. aku sayang sama dia, tapi jika aku memaksakan kehendak aku untuk tetap mempertahankan dia, ku takut dia yang sakit hatinya, apa lagi disaat itu kondisi wajahku yang berbeda.
Aku hargai kejujurannya dia walaupun sakit sekali yang kurasa.
aku tidak pernah membencinya, aku senang bisa belajar banyak dari kejadian itu, setidaknya dia mengajariku kesabaran, keikhlasan dan pengorbanan. beberap minggu berikutnya aku dengar dia jadian dengan cewek yang ia suka, setelah itu aku tidak mendengar kabarnya lagi.
Pada saat tanggal 2 Januari dia miscal-miscal aku dan mengirim sms ke aku, agar aku bisa menelponnya, karena ada hal yang ingin ia bicarakan kepadaku.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Va... kalau aku suka dengan cewek lain kamu bagaimana??" -_-"
deeeeeegg.... serasa ditusuk dadaku, aku seperti sesak nafas, aku sangat kaget sekali mendengar dia berkata seperti itu.
Dia suka dengan cewek lain disaat aku sayang banget sama dia.
Aku bingung ingin berkata apa?, aku bekata padanya, "Kalau kamu suka dengan cewek lain, itu hak kamu, engga apa2.. aku tidak bisa memaksakan rasa suka dan sayang kamu ke orang lain, kalau cewek itu lebih baik dan bisa buat kamu lebih senang dan nyaman, aku ikhlas kok, Insya Allah kalau kamu seneng, akupun juga seneng.." tapi dia malah marah kepadaku dia bilang aku engga sayang sama dia dan gak bisa mempertahankan hubungan kita, namun memang seperti itulah yang terjadi, dia memang sedang menyukai cewek lain dan aku tidak bisa memaksakannya. aku sayang sama dia, tapi jika aku memaksakan kehendak aku untuk tetap mempertahankan dia, ku takut dia yang sakit hatinya, apa lagi disaat itu kondisi wajahku yang berbeda.
Aku hargai kejujurannya dia walaupun sakit sekali yang kurasa.
aku tidak pernah membencinya, aku senang bisa belajar banyak dari kejadian itu, setidaknya dia mengajariku kesabaran, keikhlasan dan pengorbanan. beberap minggu berikutnya aku dengar dia jadian dengan cewek yang ia suka, setelah itu aku tidak mendengar kabarnya lagi.
2 komentar:
keikhlasan hati mu membalut keindahan mu
keikhlasan hati mu membalut keindhanamu
Posting Komentar