Hari Ketiga Ramadhan
Hari ini aku
harus balik lagi ke Bogor, karena ikut Semester Pendek.Padahal masih pengen
dirumah sieh, soalnya masih kangen euy, kan jarang pulang kerumah, bisa 3 bulan
baru pulang, kalau kata mama “Suka kaya Bang Toyib ga pulang-pulang!”.. udahlah
dirumah aja kan liburan, kata umi.. waduh apa kabar nanti SP aku??..ini kali
pertama aku buka bareng di kostan, enak banget dimasakkin sama ibu yang jaga
kost jadi ga usah repot beli di luar, kalau sahur juga udah dimasakin sama
Ibunya, tinggal nanti bayar perorang sesuai yang dimakan..Pas buka puasa
diceritain sama si Ibunya tentang cerita dongeng Putri Duyung karangan H.C
Anderson. Sedih banget beda dengan yang dikartun. Intinya tentang pengorbanan
Cinta yang besar dari seorang makhluk setengah manusia setengah ikan yang
mencintai seorang pangeran yang Ia selamatkan dilaut. Betapa besar cintanya
hingga ia mengorbankan dirinya sakit, mengorbankan suaranya yang indah kepada
penyihir laut yang jahat demi mendapatkan kaki manusia. Namun yang ia dapatkan
malah sakit hati yang teramat sangat karena cintanya bertepuk sebelah tangan,
karena pangeran lebih memilih putri lain yang telah menolongnya saat ia
terdampar di tepi pantai dekat kerajaan putrid tersebut. Putri duyung tersebut
demi bisa terus dekat dengan pangeran ia rela menjadi pembantu dikerajaan sang
Putri yang telah menyelamatkan pangeran. Pada suatu saat pangeran melamar sang putri
untuk dijadikannya istri, karena sudah tidak kuat putrid duyung ingin membunuh
sang Pangeran, karena ia befikir jika ia tidak mendapatkan pangeran maka putrid
tersebut juga tidak boleh mendapatkannya. Teringat akan perjanjian dengan
penyihir laut yang telah mengambil suaranya. Kata penyihir jahat tersebut “Jika
suara mu ingin kembali dank au ingin menjadi manusia yang seutuhnya, maka sihir
tersebut bisa musnah jika pangeran menyatakan cinta kepadamu, dan kamu menikah
dengan pangeran.” Namun hal itu sia-sia, sekeras apapun usaha sang putrid duyung
untuk memberitahukan kepada pangeran bahwa yang telah menyelamatkan dirinya
dari kematian adalah putri duyung, tetapi pangeran sama sekali tidak mengerti
yang ia coba katakana, dan pangeran hanya menganggapnya pembohong. Putri duyung
tersebut hanya bisa menangis, dia melihat pangeran tersebut memberikan cincin
kepada putri dan mengikrarkan janji pernikahan. Putri duyung tersebut kembali
ketepi laut dan berubah menjadi buih. Jadi pengen beli bukunya deh di Gramedia
penasaran banget, soalnya kata Ibu kost ceritanya bener-bener sedih. Memang sedih
sih, diceritain aja udah pengen nangis. Hiks hiks hiksssss….
Moral yang bisa
aku ambil dari cerita Putri duyung ini, bahwa janganlah terlalu mencintai orang
lain yang memang belum benar-benar kita miliki, karena belum tentu orang
tersebut mencintai kita, walaupun kita telah berkorban banyak karena orang yang
kita cintai tidak tahu apa yang telah kita lakukan demi dia. Mencintailah
dengan sekedarnya janganlah kurang dan janganlah berlebih. Karena Cinta yang
benar-benar harus kita cintai adalah cinta untuk Pencipta Kita, dialah Maha
Kasih dan Maha Sayang. Mencintai adalah anugerah yang diberikan oleh Allah
kepada makhluknya yaitu manusia, namun kita harus bisa mencoba memberikan
keseimbangan antara cinta kita kepada makhluk Allah dan Allah SWT. Allah
memberikan karunia kepada manusia agar bisa berkasih sayang. Tetapi kasih
sayang ini harus bisa coba kita jaga untuk yang telah dihalalkan. Kalau dizaman
sekarang sudah banyak remaja-remaja yang berkorban memberikan apa saja agar
kekasihnya tidak direbut orang sampai-sampai dia rela memberikan yang harusnya
dia jaga hanya untuk suaminya kepada orang lain yang belum tentu menjadi
suaminya, katanya atas dasar cinta.. naudzubillahi..
jika sudah terjadi hal demikian, maka dosalah diri yang elah melakukannya,
mencoreng nama baik keluarga, impian yang dia idam-idamkan pun seketika akan
musnah.
Karena terkadang seperti kata pepatah, “Cinta
buta tak memandang rupa. Walaupun rupa fisik biasa saja, jatuh cnta tetap bisa
menimpa.”
Cinta buta akan menjadikan pelakunya tersiksa. Baik saat berhasil
maupun gagal, maka kalau mau jatuh cinta jangan membabi buta, jatuh cintalah
dengen melek.
Dengan cara pertama : mendahulukan kepentingan Allah, saat rasa cinta
membentur kepentingan Allah, kepentingan Allah lah yang harus didahulukan.
Kedua : jika mencintai harus sewajarnya dan tidak berlebihan. Karena boleh
jadi hari ini kita mencintainya setengah hidaup dan membencinya setengah mati
Ketiga : berani menerima realita, saat objek yang kita cintai sudah ada
yang punya, jananlah memaksakan diri.
Dikutip dari buku nieh, “Aku Pingin Nikah(mending nikah muda daripada
menumpuk dosa)”.
“Semoga Allah selalu menjagaku,
dan selalu bersyukur karena Allah selalu menjagaku sampai sekarang”
Alhamdulillah..amieenn
Tidak ada komentar:
Posting Komentar