Hari Kedua Puasa
Heemmm, hari kedua puasa aku ngapain aja yah??
Habis sahur, aku langsung sholat terus baca cuma selembar
al-qur’an karena ga kuat nahan ngantuk, terus tidur deh..terus bangun sekitar
jam 8 mandi pagi terus nonton tv bareng adikku Alpin sambil becanda sama dia,
mumpung lagu akur hehehe. Terus ngobrol-ngobrol sama umi, tadinya mau kepasar
lagi sama mama, tapi ga jadi mama ke pasar bareng papa aku, papaku padahal baru
pulang menguburkan almarhum Abah yang meninggal hari sabtu sore menjelang
berbuka.
Mama belanja daging lagi hehe, buat direndang sama
cumi-cumi, aku buka puasa seneng banget habisnya makan enak melulu, hahahah. Selesai
berbuka aku sholat dan siap-siap untuk tarawih. Pas selesai azan ternyata mati
lampu.. hufffhh..aku terawih di dekat mushola rumah hanya berbeda satu RT dari
rumah aku. Walaupun gelap masih tetaap lanjuuuuttt euy sholat terawihnya. Pas
sholat terawih dapat ceramah nieh dari pengisi ceramahnya. Tentang “Seberapa
dekat Allah dengan hambanya”
Di dalam ceramahnya dikisahkan tentang seorang Badui atau
seorang masyarakat dari suku yang tidak mengenal dengan teknologi tidak mengerti
politik dan masih bersih diibaratkannya, yang tidak mau bercampur dengan
kehidupan luar. Salah satu orang dari badui bertanya kepada Rasulullah SAW.
“Ya…Rasul, aku ingin bertanya kepada Engkau, seberapa
dekatkah Allah dengan Hamba-hambanya, apakah dia begitu jauh sehingga setiap
aku berdoa aku harus berteriak sekuat kemampuan suara aku, ataukah Allah sangat
dekat Ya Rasul sehingga aku akan selalu berbisik kepada- Nya, selalu meminta,
memanjatkan doa kepada-Nya.”
Saat itu pula malaikat menyampaikan ayat yang berbunyi dari
Allah,(aku kurang hafal surat apa) tapi intinya, dikatakan dalam ayat tersebut.”
Wahai Muhammad katakanlah kepada hamba-hambaku, bahwa AKU sangatlah dekat
dengan mereka, AKU lebih dekat daripada urat nadi yang ada dilehermu, “
Ayat ini menyatakan kepada kita bahwa sesungguhnya Allah
selalu ada untuk kita dan selalu dekat dengan kita. Dia selalu menyaksikan apa
yang telah kita kerjakan. Subhanallah (Maha Suci Engkau Ya Allah). Aku pun
beristighfar mencoba mengingat jika aku selalu berbuat kesalahan selama
ini. padahal Allah selalu bersama di setiap langkahku, menyaksikan apa yang telah ku perbuat
Kemudian Pak Ustad pun berkata, “Di bulan Ramadhan ini
marilah kita banyak berisitghfar, banyak berdzikir memuji keagungan Allah SWT. Panjatkanlah
doa yang terbaik kepada-Nya, di bulan Ramadhan ini di saat kita akan menjelang
berbuka (di saat bibir ini mulai kering, badan sudah terasa lemas, dan wajah
sudah mulai pucat). Cobalah mengadahkan tangan meminta kepada Allah apa yang
kalian inginkan, karena di saat itu tidak ada tembok penghalang yang
menghalangi kalian untuk langsung doa kalian didengar oleh Allah. Buat yang
masih mencari ilmu mintalah kepada Allah yang terbaik untuk pendidikan kalian,
yang masih jomblo silahkan minta jodoh yang terbaik kepada Allah, buat para
orang tua mintalah rezeki yang halal agar dapat memberi nafkah kepada keluarga
yang baik dan halal dan agar anak-anaknya menjadi anak-anak yang sholeh dan
sholeha”
Sempat merekah lebar senyum ini, hehehe meminta kepada Allah
tanpa ada tembok penghalang. Aku mencoba memikirkan apa saja yang ingin aku
panjatkan doa terus-menerus sebelum berbuka.
Hemm yang pertama pastinya ingin menjadi anak sholeha yang membanggakan orang tua, berguna bagi agama dan negara. Yang kedua, pasti
masalah kuliah, yang ketiga rezeki buat aku dan orangtuaku, dan terakhir sempet
terfikir meminta didekatkan jodoh yang “TERBAIK” buat aku..heheheh , jadi
pengen nikah muda (HIHIHIHIHI) karena pak Ustadz sendiri bilang, menikahlah
karena akan mendapatkan kesempurnaan iman dan itu sunnah nabi. Semoga yang
terbaik dan yang selalu menjaga hatinya untukku akan tiba pada waktunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar